Pengunjung

ads
hakim azhari Konsep Anti Dikotomi Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam Rabu, 15 Mei 2013 Konsep Anti Dikotomi Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam A. Pengertian Anti Dikotomi             Dalam Kamus Ilmiah, kata Anti bermakna... 5

Konsep Anti Dikotomi Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam


Konsep Anti Dikotomi Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam
A. Pengertian Anti Dikotomi
            Dalam Kamus Ilmiah, kata Anti bermakna; benci, menolak, melawan, dan menentang.[1]Pengertian dikotomi, tentunya kita harus mengetahui lebih dulu pengertian secara harfiah dari kata dikotomi itu sendiri. Kata dikotomi berasal dari bahasa Inggris “dichotomy” yang artinya membedakan dan mempertentangkan dua hal yang berbeda. [2]Kata yang dalam bahasa Inggrisnya dichotomy tersebut, digunakan sebagai serapan ke dalam bahasa Indonesia menjadi dikotomi yang arti harfiahnya dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan. [3]Maka ketika menempatkan sesuatu pada dua kutub yang berbeda yang sulit untuk diintegrasikan, sikap tersebut sudah menjadi sikap dikotomi. Contohnya seperti; sikap dikotomisasi antara Ilmu Pengetahuan dan Agama. Jadi yang dimaksud Anti Dikotomi adalah penolakan terhadap penggolongan (pembagian) atas dua kelompok yang saling bertentangan.
B. Pengertian Ilmu Pengetahuan
ilmu pengetahuan ialah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal-ihwal yang di selidiki (alam, manusia, dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu penginderaan manusia itu, yang kebenarannya di uji secara empiris, riset dan eksperimental.[4] Ilmu pengetahuan sendiri, terdiri dan terbentuk atas Ilmu dan Pengetahuan, kata Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu; ‘allama yang berarti Pengetahuan. Kata ini sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris yang berarti Pergetahuan. Kata ini ada yang menyebut berasal dari bahasa Latin scire, scientia yang berarti pengetahuan dan aktivitas mengetahui. [5]
C. Konsep Anti Dikotomi antara Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam
            Agama Islam banyak memberikan penegasan mengenai Ilmu Pengetahuan baik secara nyata maupun secara tersamar, seperti yang tersebut dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, sebagai berikut:
Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4  
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. [6]
            Dalam Al-qur’an dan hadits sangat banyak ayat-ayat yang menerangkan tentang hubungan antara ajaran Islam dan Ilmu Pengetahuan serta pemanfaatannya yang kita sebut Ilmu Pengetahuan. Hubungan tersebut dapat berbentuk seperti perintah yang mewajibkan, menyuruh mempelajari, pernyataan-pernyataan, bahkan ada yang berbentuk sindiran dan lain-lain. Kesemua itu tidak lain menggambarkan betapa eratnya hubungan antara Agama Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tidak dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tegasnya, Hubungan antara Agama Islam dan Ilmu Pengetahuan adalah bersifat erat dan menyatu.[7]
            Selain itu, Al-Qur’an juga mengandung ayat-ayat yang bisa dijadikan pedoman meskipun hanya secara garis besar, bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam rangka mempertebal keimanan dan meningkatkan kesejahteraan Umat manusia di Dunia. Tiga Sumber dalam Islam yaitu, Al-Qur’an, as-sunnah, dan Al-kaun (Alam Semesta). Dari ketiga sumber tersebut saling keterkairtan dan saling menguatkan. Sumber Al-kaun )Alam semesta( harus kita pelajari, kita tafakurkan, kita obserrvasi, kita teliti, dan kita nalarkan secara cermat, akurat dan seksama sebagaimana sikap kita terhadap Al-Qur’an dan As Sunnah. Al-kaun sebagai sumber yang ketiga akan memberikan kelengkapan yang detail bagi pemahaman serta penafsiran Al-qur’an dan As Sunnah.[8]
            Ziauddin Sardar Mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab dikotomi sistem pendidikan Islam adalah diterimanya budaya barat secara total bersama dengan adopsi ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sebab mereka yang menganut pandangan tersebut berkeyakinan, kemajuanlah yang penting bukan agama. Oleh karenanya kajian Agama dibatasi bidangnya. Agama hanya membicarakan tentang hubungan individu dengan Tuhannya, lainnya bukan urusan agama.[9] 
            Dalam ajaran Islam, sikap dikotomis terhadap Ilmu bukan saja tidak didapati dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, akan tetapi yang di dapati justru sebaliknya, yakni bertentangan dengan pesan suci Tuhan yang memunculkan konsep Ilmu Integral dari Al-Qur’an dan Al-Hadits itu sendiri. Bahkan dalam doktrin-doktrin Islam ditegaskan bahwa segala bentuk Ilmu pengetahuannya hakikatnya adalah bersumber dari satu, yakni Allah sebagai pencipta Ilmu Pengetahuan yang mutlak, transenden secara nyata dan secara metafisis maupun aksiologis tinggi.[10] Penilaian ini sejalan dengan realitas yang terjadi antara peradaban Islam dengan peradaban Barat. Hilangnya aspek kesakralan dari konsep Ilmu barat serta sikap ilmuwan Muslim yang menyebabkan terjadinya stagnansi setelah memisahkan wahyu dari akal, dan memisahkan pemikiran dari aksi kultur dan dipandang sama berbahayanya bagi perkembangan keilmuan Islam. Dari fakta diatas, muncullah gagasan untuk menyatukan kembali, dan menolak adanya penggolongan (anti dikotomi) antara Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam dengan Istilah “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”.[11]
            Ada beberapa cara untuk menghilangkan dikotomi ilmu pengetahuan dan Agama Islam dengan Proyek Islamisasi Ilmu pengetahuan adalah:
(a).  Dari segi epistemologi, umat islam harus berani mengembangkan kerangka pengetahuan masa kini yang terartikulasi sepenuhnya. Ini berarti pengetahuan yang dirancang harus aplikatif. Kerangka pengetahuan dimaksud setidaknya dapat menggambarkan metode-metode dan pendekatan yang tepat yang nantinya dapat membantu pakar Muslim.
(b). Perlu adanya kerangka teoritis Ilmu Pengetahuan yang menggambarkan gaya-gaya dan metode aktifitas Ilmiah yang sesuai tinjauan dunia dan mencerminkan nilai dan norma budaya Muslim.
)c). Perlu diciptakan teori-teori yang memadukan ciri-ciri terbaik sistem tradisional dan sistem modern yang mengacu pada konsep ajaran islam. Disamping itu, sistem tersebut juga harus mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat muslim secara multidimensional masa depan.[12]
            Al-Qur’an merupakan produk Iptek Allah yang diturunkan kepada Manusia untuk manusia akan jalur-jalur riset yang perlu ditempuh, sehingga manusia memperoleh hasil yang benar. Disini fungsi Al-Qur’an sebagai hudan memberikan kecerahan pada akal manusia, sehingga manusia merasa lapang dihadapan Allah yang maha luas. Kebenaran hasil riset ini dapat di ukur dari kesesuaian antara akal dengan naqli. Kerja akal yang sesuai dengan naql. Kerja akal yang sesuai dengan naql ini dapat dikategorikan Ibadah kepada Allah SWT. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dalam Agama Islam tidak ada penggolongan (dikotomi) antara Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam. Semua itu dapat dibuktikan dengan pengambilan beberapa wahyu Allah untuk diteliti dan dikaji secara mendalam untuk dijadikan sebuah Ilmu Pengetahuan. Karena sebenarnya dalam ajaran Islam sudah dijelaskan secara rinci bahwa semua yang ada ini adalah bersumber dari sang Pencipta, yaitu Allah. Dan hal inilah yang mendasari Anti Dikotomi antara Ilmu Pengetahuan dan Agama Islam.



DAFTAR PUSTAKA

Bahauddin, Sri Minarti, Umiarso. Dikotomi Pendidikan Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011. 

Pius A Partanto, M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola, 2001.

Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001.

Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama,  Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987.

Tim Perumus Fakultas Teknik UMJ Jakarta, Al-Islam & Iptek, Jakarta: PT. Raja Grafindo Press, 1998.

Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Terj. Rahma Astuti, Bandung: Mizan, 1986.



[1] Pius A Partanto, M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001), hal. 35.

[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hal. 264.
[4] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987), hal. 50.
[5] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal. 41.
[6] QS. Al-Mujadalah: 11.
[7] Tim Perumus Fakultas Teknik UMJ Jakarta, Al-Islam & Iptek, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Press, 1998), hal. 61-63.
[8] Ibid, hal. 69.
[9] Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Terj. Rahma Astuti, (Bandung: Mizan, 1986), hal. 75.
[10] Bahauddin, Sri Minarti, Umiarso. Dikotomi Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hal. 50-53 
[11] Ibid, hal. 71.
[12] Ziauddin Sardar, Op. Cit., hal. 280-281.

Related Posts On

2 komentar:

  1. Silahkan baca, mudah-mudahan bermanfa'at: http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/02/dikotomisme-ilmuadakah-itu/

    BalasHapus


Copyright © Anugerah Ilmu

Sponsored By: Free For Download Template By: Fast Loading Seo Friendly Blogger Template