A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran dan
Budi Pekerti
Perencanaan atau rencana (planning)
dewasa ini telah dikenal oleh hampir setiap orang. Kita mengenal rencana
pembangunan, rencana pendidikan, perencanaan produksi. Bahkan keluarga yang
dulu dipandang sebagai sesuatu yang berjalan menurut “alam” sekarang
direncanakan juga yang dikenal dengan sebutan keluarga berencana.
Kaufman mengatakan: perencanaan
adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan
absah dan bernilai, didaamnya mencakup elemen-elemen:
1. Mengidentifikasikan dan
mendokumentasikan kebutuhan.
2. Menenukan kebutuhan-kebutuhan yang perlu
diprioritaskan.
3. Spesifikasi rinci hasil yang dicapai
dari tiap kebutuhan yang diprioritaskan
4. Identifikasi persyaratan untuk mencapai
tiap-tiap pilihan
5. Sekuensi hasil yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan yang dirasakan
6. Identifikasi strategi alternatif yang
mungkin dan alat untuk melengkapi tiap persyaratan dalam mencapai tiap
kebutuhan.[1]
Menurut Comb dalam Harjanto :
Perencanaan Pengajaran dalam arti
yang luas adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses
perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan
efisien sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan tujuan para murid dan masyarakat.
Menurut Abdul Majid :
Dalam konteks pengajaran,
perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran,
penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode pengajaran dan
penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dari pengertian-pengertian diatas
maka yang di maksud dengan Perencanaan
Pengajaran adalah suatu proses yang sistematis dilakukan oleh guru
dalam membimbing, membantu dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman
belajar serta mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dengan
langkah-langkah penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran,
penggunaan pendekatan dan metode pengajaran dan penilaian dalam suatu alokasi
waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu.
B.
Dasar Perlunya Perencanaan
Pembelajaran
Upaya
perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai berikut:
1.
Untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran
yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran;
2.
Untuk
merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem;
3.
Perencanaan
desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar;
4.
Untuk
merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara perorangan;
Langkah-langkah
desain pembelajaran menurut Dick dan Carrey sebagai berikut:
1.
Mengeidentifikasi
tujuan umum pengajaran;
2.
Melaksanakan
analisis pengajaran;
3.
Mengidentifikasi
tingkah laku masukan dan karakteristik siswa;
4.
Merumuskan
tujuan performasi;
5.
Mengembangkan
butir-butir tes acuan patokan;
6.
Mengembangkan
strategi pengajaran;
7.
Mengembangkan
dan memilih material pengajaran;
8.
Mendesain
dan melaksanakan evaluasi formatif;
C. Urgensi Perencanaan Pembelajaran
Arti dan perkembangan perencanaan
pendidikan khususnya di indonesia pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan
arti dan perkembangan perencanaan pada umumnya. Mengapa perencanaan tu
diperlukan bagi suatu negara, bangsa dan organisasi? Jawaban atas pertanyaan
ini tentang perlunya diilakukan perencaan jika dilihat dari segi bahwa perencanaan
sebagai suatu alat atau cara untuk mencapai tujuan, dapat dikemukakan beberapa
alasan, sebagai berikut:
1. Dengan adanya perencanaan diharapkan
terdapatnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan
kegiatan-kegitan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangun.
2. Dengan perencanaan maka dilakukan sutu
perkiraan (forecasing) terhadap hal-hal dalam masa pelaksanan yang akan
dilalui. Perkiraan dilakukan mengenai potensi-potensi dan prospek-prospek
perkembangan tetapi juga mengenal hambata-hambatan dan resiko-resiko yang
mungkin dihadapi. Perencanaan mengusahakan suaya ketidak pastian dapat dibatasi
sedini mungkin
3. Perencanaan memberikan kesempatan untuk
memilih berbagai alternatif tentang cara yang terbaikatau kesempatan untuk memilih
kombinasi cara yang terbaik
4. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan
skala prioritas . memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan,
sasaran maupun kegiatan usahanya.
5. Dengan adanya rencana maka akan ada
suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan pengawas/ evaluasi.
D. Fungsi dan Tujuan Perencanaan
Pembelajaran
1.
Fungsi
perencanaan pembelajaran bagi guru:
a.
Perencanaan
pembelajaran sebagai pedoman atau acuan dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar.
b.
Untuk
menambah penguasaan guru terhadap materi yang diajarkan dan juga menyeleksi
atau mengkombinasikan materi.
c.
Perencanaan
pembelajaran sebagai alat untuk mengukur keberhasilan,belajar-mengajar, baik
proses maupun hasil.
d.
Sebagai alat
untuk membantu pengelolaan pendidikan
e.
Menjadikan
kegiatan pembelajaran lebih terarah dan berjalan secara efektif dan efesien
2.
Fungsi
perencanaan pembelajaran bagi siswa:
a.
Sebagai
pedoman dan acuan belajar, karena materi pelajarannya sudah terencana.
b.
Sebagai
persiapan belajar, karena materi pelajarannya tidak akan berubah-ubah lagi
(sudah terencana)
c.
Menjadikan
siswa senang dalam belajar, karena pembelajarannya terencana.[4]
Setiap
guru semestinya melakukan persiapan mengajar sebelum memasuki suatu proses
pembelajaran. Persiapan mengajar pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka
pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang akan dilakukan.
Dengan demikian, persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan
tindakan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.
Hamid
Darmadi selanjutnya menegaskan bahwa perencanaan persiapan mengajar
sesungguhnya bertujuan mendorong guru agar lebih siap melakukan kegiatan
pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan
melakukan pembelajaran guru wajib melakukan persiapan, baik persiapan tertulis
maupun tidak tertulis. Dosa hukumnya bagi guru yang mengajar tanpa persiapan,
dan hal tersebut hanya akan merusak mental dan moral peserta didik.[5]
E.
Perencanaan Pengajaran dalam
Proses Pembelajaran
Kegiatan
belajar yang berlangsung di sekolah bersifat formal, disengaja, direncanakan,
dengan bimbingan guru dan bantuan pendidik lainnya. Apa yang hendak dicapai dan
dikuasai oleh siswa dituangkan dalam tujuan belajar, dipersiapkan bahan apa
yang harus dipelajari, dipersiapkan juga metode pembelajaran, yaitu sesuai
dengan cara siswa mempelajarinya, dan pada akhirnya dilakukan evaluasi untuk
mengetahui kemajuan belajar siswa. Penjelasan ini memberi gambaran bahwa
kegiatan belajar yang dilaksanakan secara sengaja dipersiapkan dalam bentuk
perencanaan pengajaran. Persiapan pengajaran ini sebagai kegiatan integral dari
proses pembelajaran di sekolah.[6]
Penyusunan
program pembelajaran dapat dibedakan menjadi program tahunan, program
semester, program mingguan dan program
harian. Program tahunan merupakan rencana pembelajaran yang disusun untuk
setiap mata pelajaran yang berlangsung selama satu tahun ajaran pada setiap
mata pelajaran dan kelas tertentu yang disusun menjadi bahan ajar. Untuk
mencapai target dan tujuan yang ditetapkan, maka secara teknis dan operasional
dijabarkan dalam program mingguan dan juga harian.[7]
Pada dasarnya rencana pengajaran adalah manifestasi dari pikiran-pikiran dan
konsep-konsep dasar yang tertuang pada kurikulum dan GBPP.
Perencanaan
pengajaran (Instructional Design) dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
yaitu: 1. Perencanaan pengajaran sebagai
sebuah proses adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang menggunakan
secara khusus teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas
pembelajaran. Dalam perencanaan ini kebutuhan dianalisis dari proses belajar
dengan alur yang sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Termasuk di
dalamnya melakukan evaluasi terhadap materi pelajaran dan aktivitas-aktivitas
pengajaran. 2. Perencanaan pengajaran sebagai sebuah disiplin adalah cabang
dari pengetahuan yang senantiasa memperhatikan hasil-hasil penelitian dan
hasil-hasil penelitian dan teori-teori tentang strategi pengajaran dan
implementasinya terhadap strategi-strategi tersebut. 3. Perencanaan pengajaran sebagai
sains (Science) adalah mengkreasi secara detail spesifikasi dari pengembangan,
implementasi, evaluasi dan pemeliharaan akan situasi maupun fasilitas
pembelajaran terhadap unit-unit yang luas maupun yang lebih sempit dari materi
pelajaran dengan segala kompleksitasnya.[8]
Setidaknya
ada tiga kategori pendekatan yang dijadikan pijakan dasar dalam menyusun
perencanaan pengajaran, yaitu:
a) Pendekatan permintaan
masyarakat
b) Pendekatan
ketenagakerjaan
c) Pendekatan efisiensi
investasi atau nilai imbalan.
Ketiga
pendekatan di atas pada masa sekarang banyak dipakai dalam perencanaan
pengajaran, baik oleh negara-negara maju maupun oleh Negara berkembang.
Indonesia cenderung menggunakan ketiga- tiganya secara bersama-sama, hanya
berbeda dalam penekanannya saja. Selain ketiga pendekatan tersebut, sejak tahun
enam puluhan dikenal juga suatu pendekatan lain yang dianggap lebih
komprehensif, yaitu apa yang disebut pendekatan sistem.[9]
Dalam
pandangan Oemar Hamalik, model perencanaan pengajaran terdiri atas komponen-komponen
sebagai berikut:
a) Tujuan instruksional
(Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar;
b) Material pengajaran
c) Motivasi
d) Prosedur
e) Perkiraan waktu
f) Penilaian, dan
g) Kerja mandiri dan
tingkat lanjut.[10]
Dalam
perencanaan kegiatan pembelajaran, pendidik perlu menentukan tujuan yang jelas
mengenai apa yang hendak dicapai dan mempertimbangkan alasan mengajarkan hal
itu, yakni alasan menyampaikan suatu pokok bahasan, sehingga arah pekerjaan
pendidik terarah dan efektif. Karenanya, pelajaran yang disajikan harus
mempunyai perencanaan, pengoreksian, atau kesesuaiannya dengan rencana
pelajaran. Jelasnya, tujuan seorang pendidik dalam membuat rencana pelajaran
adalah agar tercipta kondisi aktual sehingga dapat mendukung pencapaian tujuan pengajaran
yang ditetapkan secara optimal, baik tujuan khusus maupun tujuan umum.[11]
PENUTUP
Kesimpulan
Perencanaan
Pengajaran adalah
suatu proses yang sistematis dilakukan oleh guru dalam membimbing, membantu dan
mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar serta mencapai
tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dengan langkah-langkah penyusunan
materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode
pengajaran dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada
masa tertentu.
Perencanaan perlu
dibuat, karena dengan adanya perencanaan diharapkan terdapatnya suatu
pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegitan yang
ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangun.
Perencanaan
persiapan mengajar sesungguhnya bertujuan mendorong guru agar lebih siap
melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena
itu, setiap akan melakukan pembelajaran guru wajib melakukan persiapan, baik
persiapan tertulis maupun tidak tertulis. Dosa hukumnya bagi guru yang mengajar
tanpa persiapan, dan hal tersebut hanya akan merusak mental dan moral peserta
didik.
model
perencanaan pengajaran terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
a)
Tujuan instruksional (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar; b) Material
pengajaran; c) Motivasi; d) Prosedur; e) Perkiraan waktu; f) Penilaian, dan; g)
Kerja mandiri dan tingkat lanjut.
DAFTAR
PUSTAKA
Darmadi, Hamid,
Kemampuan Dasar Mengajar ( Bandung:
Alfabeta, 2009).
Hamalik,
Oemar, Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA
(Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2003).
Harjanto, Peencanaan
Pengajaran (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1997).
Kurdi,
Syuaeb dan Abdul Aziz, Model Pembelajaran Efektif (Bandung: Pustaka Bani
Quraisy, 2006).
Sagala, Syaiful,
Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2005).
Syah
, Darwin, Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta:
Rineka Cipta, 2007).
Uno, Hamzah B.
Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2008).
[1] Harjanto, Peencanaan
Pengajaran (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1997), 1-2.
[2] Syuaeb Kurdi dan Abdul
Aziz, Model Pembelajaran Efektif (Bandung: Pustaka Bani Quraisy,
2006), 83.
[3] Hamzah B. Uno,
Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 23.
[4] Darwin Syah , Perencanaan
Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), 7.
[5] Hamid Darmadi, Kemampuan
Dasar Mengajar (Cet.I, Bandung:
Alfabeta, 2009), 15.
[6] Syaiful Sagala, Konsep
dan Makna Pembelajaran (Cet. II, Bandung: Alfabeta, 2005), 135.
[7] Ibid.
[8] Hamid Darmadi, Kemampuan
Dasar Mengajar (Cet.I, Bandung:
Alfabeta, 2009), h. 136-137
[9] Harjanto, Perencanaan
Pengajaran: Komponen MKDK (Cet. VII; Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 33.
[10] Oemar Hamalik,
Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2003), h. 7-8.
[11] Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar